Jalan Neraka di Krayan: 2 Jam Berubah 2 Hari, Sopir Bertaruh Nyawa di Kubangan Lumpur

oleh -16 Dilihat

NUNUKAN – Akses jalan di dataran tinggi Krayan tak lagi sekadar rusak, ia telah menjelma menjadi “jalur neraka” yang memaksa sopir bertaruh nyawa setiap kali melintas.

Jalan penghubung antar kecamatan yang seharusnya menjadi urat nadi mobilitas, kini berubah menjadi kubangan lumpur tanpa kepastian.

Ruas Krayan–Krayan Selatan menjadi potret paling telanjang dari kelumpuhan infrastruktur di wilayah perbatasan.

Perjalanan yang normalnya hanya memakan waktu paling lama 2 jam, kini membengkak brutal menjadi 1 hingga 2 hari, bahkan lebih.

Akibatnya waktu habis terbuang sia-sia, tenaga terkuras, bahkan risiko pun ikut mengintai di setiap meter perjalanan.

Camat Krayan Selatan, Oktavianus Ramli, tak menutup-nutupi kondisi ini. Ia menyebut kerusakan jalan sudah berada di level kritis dan langsung menghantam aktivitas warga.

“Normalnya 1 sampai 2 jam. Sekarang paling cepat 1 sampai 2 hari. Itu pun kalau tidak ada masalah besar di jalan,” tegasnya, Selasa (24/03/2026).

Bukan sekadar jalan rusak, jalur ini berubah menjadi perangkap. Lumpur tebal dan licin menghilangkan daya cengkeram kendaraan.

Baca Juga  BPJPH dan Alfamart Lepas 10 Truk Bantuan Kemanusiaan untuk Sumatera

Lubang besar menganga, siap “menelan” mobil hingga setengah badan. Tak ada ruang untuk kesalahan, sekali salah, kendaraan bisa terkubur.

Dalam kondisi ekstrem ini, sopir tak punya pilihan selain bergerak berkelompok. Minimal tiga hingga empat kendaraan harus saling mengawal.

Jika satu amblas, yang lain mencoba menarik. Namun sering kali, upaya itu justru berujung sia-sia, kendaraan makin tenggelam, situasi makin genting.

Akibatnya, sopir dan penumpang kerap terjebak berhari-hari di tengah hutan. Tanpa fasilitas, tanpa bantuan cepat, hanya mengandalkan bekal seadanya.

“Kalau sudah terjebak, ya bertahan. Menginap di jalan, di tengah hutan. Kalau tidak bawa bekal, ya selesai,” ungkap Camat Krayan Selatan.

Dalam banyak kasus, kondisi memaksa sopir meninggalkan kendaraannya. Mereka berjalan kaki menembus hutan sejauh 5 hingga 25 kilometer demi mencari bantuan, sebuah pilihan yang sama-sama berbahaya.

Baca Juga  Turun Kelapangan, Rombongan Bupati Wempi Pastikan Bansos Tepat Sasaran

“Tidak ada pilihan lain. Harus jalan kaki cari bantuan. Itu pun sangat penuh risiko,” terang Oktavianus, saat dikonfirmasi awak media.

Belum selesai di situ, perjuangan berat lainnya juga menanti, yakni bagaimana cara untuk menyelamatkan kendaraan yang terjebak di dalam kubangan.

Tidak adanya alat yang memadai seperti alat berat, memaksa para sopir hanya bisa mengandalkan cangkul dan tenaga manusia untuk mengali sedikit demi sedikit, meter demi meter dalam kondisi kelelahan ekstrem.

“Gali satu meter, maju satu meter. Begitu terus. Bisa sampai malam, bahkan berjam-jam tanpa henti,” jelasnya.

Tak ada istilah siang atau malam. Selama kendaraan belum keluar, perjuangan para sopir terus berlanjut hingga kendaraanya bisa lolos dari kubangan.

Dampaknya tak berhenti pada sopir. Dengan kondisi jalan yang memprihatinkan itu, distribusi barang lumpuh.

Hal ini tentu membuat kebutuhan pokok tersendat. Rantai ekonomi terganggu. Setiap keterlambatan berarti kerugian waktu, biaya, bahkan keselamatan.

Baca Juga  Dukung Swasembada Pangan 2026, Bupati Malinau Turun Langsung Tanam Jagung Bersama Polres

“Kalau mobil bermasalah, tidak ada untung. Rugi semua. Tapi ini satu-satunya akses darat yang ada di untuk menuju Krayan Selatan,” tegasnya lagi.

Krayan kini seperti dibiarkan bertahan sendiri. Ketergantungan pada jalur darat tak diimbangi dengan kondisi jalan yang layak. Akibatnya, keterisolasian semakin dalam, dan tekanan ekonomi kian terasa.

Dengan kondisi seperti ini, Oktavianus mendesak pemerintah untuk tidak lagi menutup mata. Baginya, ini bukan sekadar soal infrastruktur, tapi soal hidup dan mati masyarakat di daerah pedalaman dan perbatasan.

“Kami butuh penanganan serius. Ini menyangkut kehidupan banyak masyarakat yang ada di pedalaman dan perbatasan,” pungkasnya.

Di tengah kondisi yang jauh dari kata manusiawi, dengan kondisi terpaksa para sopir tetap melintas dengan menembus lumpur, melawan medan, dan mempertaruhkan keselamatan demi memastikan roda kehidupan di Krayan tidak benar-benar berhenti. (*red/cn/kk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *