TARAKAN – Duka mendalam menyelimuti keluarga besar Pelita Air atas kepergian Captain Hendrik, pilot yang gugur dalam insiden kecelakaan pesawat di wilayah Krayan Timur, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.
Captain Hendrik dikenal sebagai sosok penerbang berpengalaman yang telah lama mengabdikan diri dalam dunia aviasi, khususnya dalam melayani rute perintis dan wilayah terpencil.
Dedikasinya membawa konektivitas udara ke daerah pedalaman menjadikannya salah satu pilot yang dihormati, baik oleh rekan kerja maupun masyarakat setempat.
Untuk diketahui, Captain Hendrik merupakan salah satu Pilot Pesawat Pelita Air yang bertugas di wilayah pedalaman Kaltara untuk mengangkut bahan bakar minyak (BBM).
Selian Captain Hendrik, masih ada tiga rekannya sesama Pilot Pesawat Pelita Air yang bertugas di Kaltara, namun bergantian dalam dua minggu sekali untuk menerbangkan pesawat.
Captain Hendrik, diketahui baru tiba di Tarakan untuk menggantikan rekan sejawatnya yang hendak cuti.
Selama berada di Tarakan, Captain Hendrik dan Pilot Pelita Air lainnya kerap menginap di Hotel Tarakan Plaza.
“Almarhum adalah pribadi yang profesional, disiplin, dan memiliki komitmen tinggi terhadap keselamatan penerbangan,” ujar Dyah Suryaningrum, General Manager Hotel Tarakan Plaza.
Menurut Dyah, selama menginap di Tarakan Plaza, Captain Hendrik kerap bergaul dan berkomunikasi dengan para karyawan hotel. Sehingga banyak karyawan hotel yang sangat mengenalnya.
“Jadi, Captain Hendrik, sejak bertugas di Kaltara sudah lama menginapnya di Hotel Tarakan Plaza, berdasarkan kontrak kerja dengan Maskapai Pelita Air,” ungkapnya.
“Kalau lagi tidak bertugas, beliau sering terlihat duduk dan bercerita bersama karyawan hotel, jadi kami cukup mengenalnya dengan baik,” tambah Dyah.
Selain kerap bercanda, Captain Hendrik juga kerap kerap berbagi pengalaman terbang di medan menantang, termasuk wilayah perbukitan dan bandara perintis seperti di Kaltara.
“Beliau selalu menempatkan keselamatan sebagai prioritas utama. Rekam jejaknya menunjukkan integritas dan tanggung jawab yang tinggi dalam setiap penugasan,” tambahnya.
Insiden nahas yang terjadi di kawasan perbukitan Krayan Timur itu meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi insan penerbangan nasional.
Operasional penerbangan perintis di wilayah perbatasan memang dikenal memiliki tantangan tersendiri, mulai dari kondisi cuaca yang cepat berubah hingga karakteristik landasan pacu yang terbatas.
“Atas insiden ini, kami dari Manajemen Hotel Tarakan Plaza turut berbelasungkawa atas kepergian Captain Hendrik,” pungkasnya. (*/red/cn)











