NUNUKAN – Lonjakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Malaysia memicu lonjakan permintaan BBM dalam negeri di wilayah perbatasan RI dan Malaysia.P
emerintah Kabupaten Nunukan pun bergerak cepat dengan mengajukan permohonan penambahan kuota BBM ke Pertamina.
Kepala Bagian Ekonomi Setkab Nunukan, Rohadiansyah, mengakui pihaknya tengah memfasilitasi permintaan sejumlah APMS (Agen Penyalur Minyak dan Solar) yang mengajukan tambahan kuota.
“Pemerintah daerah sedang memfasilitasi permohonan penambahan kuota tersebut. Kita juga intens berkomunikasi dengan Pertamina,” terang Rohadiansyah saat dihubungi, Kamis (02/04/2026).
Rohadiansyah menjelaskan, sedikitnya lima APMS yang tersebar di Nunukan Kota, Kecamatan Seimanggaris, dan Pulau Sebatik telah resmi mengajukan permohonan. Jumlah ini berpotensi bertambah seiring meningkatnya kebutuhan di lapangan.
Lanjutnya, kondisi ini dipicu lonjakan harga BBM Malaysia yang kini mencapai sekitar Rp20.000 hingga Rp22.000 per liter, atau dua kali lipat lebih mahal dibandingkan BBM Indonesia.
“Kalau dulu masyarakat memilih BBM Malaysia, sekarang mereka beralih ke BBM Indonesia karena lebih murah dan tidak mengalami kenaikan harga,” jelas Rohadiansyah.
Ironisnya, kuota BBM untuk APMS di Nunukan sebelumnya justru mengalami pengurangan karena target penjualan tidak tercapai.
Hal itu terjadi saat masyarakat lebih memilih BBM dari Tawau, Malaysia, yang saat itu lebih murah dan mudah diakses.
“Setelah kuota dikurangi karena penjualan rendah, sekarang permintaan melonjak. Kita tidak bisa menyalahkan masyarakat, mereka pasti mencari yang lebih murah,” katanya.
Pemkab Nunukan kini mendesak agar Pertamina mengakomodasi kembali kuota standar yang sebelumnya dipangkas. (*red/cn)











