TARAKAN – Kepanikan sempat melanda warga di kawasan Pantai Amal, Kota Tarakan, Senin (08/06/2026), setelah beredarnya informasi mengenai potensi tsunami dampak gempa tektonik Magnitudo 7,7 di Filipina.
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini tsunami untuk sejumlah wilayah di Kalimantan Utara (Kaltara) termaksud di Tarakan dengan status waspada.
Hal tersebut, membuat sejumlah warga bergegas meninggalkan rumah dan mencari lokasi yang dianggap lebih aman.
Situasi berlangsung cepat ketika kabar mengenai ancaman gelombang tsunami menyebar di tengah masyarakat.
Informasi yang beredar dari mulut ke mulut, memicu reaksi spontan warga sebelum adanya penjelasan resmi dari pemerintah maupun instansi berwenang.
Lurah Pantai Amal, Deden Haliin, mengatakan dirinya berada di kantor kelurahan saat kepanikan mulai terjadi.
Lanjut Deden, suasana berubah setelah ada warga yang berteriak mengenai adanya tsunami sehingga memicu kepanikan massal.
“Saat itu kami sedang memantau kegiatan penyaluran bantuan. Tiba-tiba muncul teriakan tentang tsunami dari salah seorang warga,” ujar Deden.
“Informasi itu, kemudian menyebar sangat cepat kepada masyarakat yang sedang berkumpul dan diteruskan kepada keluarga mereka, sehingga banyak warga langsung keluar rumah karena khawatir,” sambungnya.
Mendapat laporan tersebut, Deden, menyebutkan pihak kelurahan bersama personel Marinir, Babinsa dan Bhabinkamtibmas segera bergerak ke lapangan untuk menenangkan masyarakat.
“Kami langsung mengimbau masyarakat agar tetap tenang, serta tetap mengikuti informasi resmi dari pemerintah daerah maupun BMKG sebagai rujukan utama,” sebut Deden.
Di tengah kepanikan yang terjadi, dikatakan Deden, sebagian warga mengaku melihat air laut sempat mengalami perubahan kondisi.
Namun berdasarkan pemantauan langsung di lapangan, fenomena tersebut tidak berlangsung lama dan kondisi perairan kembali normal.
“Ada laporan dari masyarakat bahwa air laut sempat surut lalu kembali naik. Setelah kami cek langsung, kondisi itu tidak berlangsung lama dan saat ini situasi sudah kembali normal mengikuti pola pasang surut yang biasa terjadi,” bebernya..
Deden mengungkapkan, kepanikan meluas bukan semata karena informasi awal yang beredar, tetapi juga karena banyak warga ikut berlarian setelah melihat orang lain melakukan hal yang sama tanpa mengetahui fakta yang sebenarnya.
“Ketika ada beberapa orang berlari, warga lain ikut bergerak karena mengira situasinya darurat. Akibatnya keramaian terjadi di sejumlah ruas jalan, terutama di kawasan Baisel dan beberapa titik di Pantai Amal,” ungkapnya.
Untuk mengendalikan situasi, pemerintah kelurahan berkoordinasi dengan unsur TNI, aparat keamanan dan pengurus lingkungan guna menyebarluaskan informasi yang benar melalui pengeras suara masjid maupun grup komunikasi warga.
“Kami terus melakukan sosialisasi agar masyarakat tetap tenang, tidak mudah percaya pada kabar yang belum terverifikasi, dan selalu mengacu pada informasi resmi yang dikeluarkan pemerintah serta BMKG,” tegasnya.
Hingga Senin siang, kondisi di kawasan Pantai Amal dilaporkan berangsur kondusif. Warga yang sebelumnya berkumpul di tepi jalan mulai kembali ke rumah masing-masing setelah mendapatkan penjelasan dari aparat keamanan dan pemerintah setempat. (*/red/cn)











